Monday, April 6, 2020

Alesan Buat Surat Ijin

Alesan Buat Surat Ijin

Alesan Surat Izin Generator - AufarSpirit

Alesan Surat Izin Generator by Dun

Gunakanlah surat izin generator ini jika kamu habis ide untuk membuat izin ke sekolah atau kantor.

Dear Pak/Bu,

Bersama dengan email ini saya meminta izin berhalangan hadir/tidak datang karena ALASAN.

Mohon maaf dan harap maklum. Terima kasih atas perhatiannya.

Best Regards,

DUUUUUUNNN

Tidak suka dengan surat izin ini? Mau lihat berikutnya? Klik tombol dibawah.

Alasan favorit kamu belum ada disini? Silahkan komentar di box comment dibawah ini.

Baca selengkapnya

Friday, April 19, 2019

IMPLEMENTASI METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) DAN SAW (SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING) PADA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN  Penilaian Kinerja Karyawan Ifun Jaya Textile

IMPLEMENTASI METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) DAN SAW (SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING) PADA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN Penilaian Kinerja Karyawan Ifun Jaya Textile

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 Sistem Pendukung Keputusan merupakan bagian dari sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu instansi atau perusahaan. Sistem pendukung keputusan di bangun untuk memudahkan seseorang untuk mengambil suatu keputusan. Sistem dapat mengambil suatu keputusan sesuai dengan pertimbangan dari kriteria-kriteria yang telah kita masukkan sebelumnya. Penilaian kinerja perusahaan merupakan salah satu kegiatan yang memerlukan kejelian dalam penilaian dan juga harus selektif berdasarkan penilaian yang ada dalam lapangan. dengan itu diharapkan dapat diperoleh hasil yang memuaskan yaitu pegawai pegawai yang terbaik dalam perushaan sehingga pantas untuk memajukan perusahaan
Oleh karena itu, kita memerlukan sebuah sistem pendukung keputusan untuk membantu panitia penyelenggaraan seleksi pegawai pada PT. Ifun Jaya Textiles
Berdasarkan hal-hal diatas, penulis ingin menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Simple Additive Weighting (SAW) di dalam penelitian untuk menentukan Pegawai mana yang layak dijadikan pegawai andalan perushaan  dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh pihak Pt. Ifun Jaya Textiles tersebut.




1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apa pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP) Dan
Simple Additive Weighting (SAW)?
2.    Bagaimana cara menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) Dan
Simple Additive Weighting (SAW)?
3.    Bagaimana menentukan menentukan Pegawai mana yang layak dijadikan pegawai andalan perusahaan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Dan Simple Additive Weighting (SAW)?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini, antara lain:
1.      Dapat mengetahui pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP) Dan Simple Additive Weighting (SAW).
2.      Dapat menghitung menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Dan Simple Additive Weighting (SAW).
3.      Dapat menentukan Hasil menentukan Pegawai mana yang layak dijadikan pegawai andalan perusahaan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Dan Simple Additive Weighting (SAW)




BAB II
TEORI dan PEMBAHASAN

A.    Teori Dasar
Pengertian Metode AHP
Di luar ketiga jenis di atas, Thomas L. Saaty, Profesor pada Wharton School of Economics, Amerika serikat (1971-1915) mengembangkan metode analisis keputusan yang diberi nama Analytical Hierarchy Process (AHP). Menurut Saaty, kerumitan dalam pengambilan keputusan itu ialah karena keragaman kriteria.
Pada dasarnya metode AHP yang dikembangkan oleh Thomas Saaty, memecah-mecah suatu situasi ke dalam bagian-bagian komponennya dan menata bagian atau variabel ini ke dalam suatu susunan hirarki.
Proses hirarki analisis memiliki prinsip dasar sebagai berikut:
1. Menyusun secara hirarkis, yaitu memecah persoalan menjadi unsur-unsur yang terpisah.
Pertama kita harus mendefinisikan situasi dengan seksama, memasukkan sebanyak mungkin rincian yang relevan, lalu menyusun model secara hirarki yang terdiri atas beberapa tingkat rincian, yaitu fokus masalah, kriteria, dan alternatifFokus masalah merupakan masalah utama yang perlu dicari solusinya dan terdiri hanya atas satu elemen yaitu sasaran menyeluruh. Selanjutnya, Kriteria merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atas fokus masalah. Untuk suatu masalah yang kompleks atau berjenjang, kriteria dapat diturunkan kepada sub-sub kriteria. Dengan demikian kriteria bisa terdiri lebih dari satu tingkat hirarki. Yang terakhir adalah Alternatif, merupakan berbagai tindakan akhir dan merupakan pilihan keputusan dari penyelesaian masalah yang dihadapi.
Contoh : Pengambilan keputusan untuk memilih Bank untuk menabung. Hirarki tingkat 1 adalah keputusan memilih Bank. Dalam memilih Bank ini terdapat bebagai kriteria yang perlu dipertimbangkan, yaitu Lokasi, Pelayanan dan Bunga yang diberikan, ketiga hal ini merupakan hirarki tingkat kedua. Pada tingkat ketiga ialah berupa alternatif tiga Bank yang dipertimbangkan untuk dipilih, misalkan Bank A, B, dan C. Selanjutnya tingkatan hirarki dapat digambar sebagai berikut.


2. Menetapkan prioritas, yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatif pentingnya.
Setelah menyusun hirarki, selanjutnya memberikan penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen. Hasil penilaian ini lebih mudah dilihat bila disajikan dalam bentuk matriks (tabel) yang diberi nama matriks berpasangan (pairwise comparison). Pertanyaan yang biasa dilakukan dalam meyusun skala kepentingan adalah.
(1) Elemen mana yang lebih (penting/disukai/mungkin/…),
(2) Berapa kali lebih (penting/disukai/mungkin/…)?
Dalam menentukan skala dipakai patokan sebagai berikut:
Dalam penilaian kepentingan relatif dua elemen berlaku aksioma berbalikan (reciprocal) yakni: jika A dinilai 3 kali B maka otomatis B adalah sepertiga A. Dalam bahasa matematika A=38 B=1/3A.
Untuk memperoleh perangkat prioritas menyeluruh bagi suatu persoalan keputusan, kita harus menyatukan atau mensintesis pertimbangan yang dlbuat dalam melakukan pembandingan berpasang, yaitu melakukan suatu pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan satu bilangan tunggal yang menunjukkan prioritas setiap elemen. Elemen dengan bobot tertinggi adalah alternatif/rencana yang patut dlpertimbangkan untuk dipilih
3.Mengukur konsistensi logis, yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis.
Proses AHP mencakup pengukuran konsistensi yaitu apakah pemberian nilai dalam pembandingan antar obyek telah dllakukan secara konsisten. Ketidakkonsistenan dapat timbul karena miskonsepsi atau ketidaktepatan dalam melakukan hirarki, kekurangan informasi, kekeliruan dalam penulisan angka, dan lain-lain. Salah satu contoh dalam inkonsistensi dalam matriks pembandingan ialah dalam menilai mutu suatu produk. Misalkan, dalam preferensisi pengambil keputusan, A 4x lebih baik dari B, B 3x lebih baik dari C, maka seharusnya A 12x lebih baik dari C. Tetapi jika dalam pemberian nilai, A diberi nilai 6x lebih dari C, berarti terjadi inkonsistensi.
Rasio konsistensi (consistency ratio, CR) menunjukkan sejauh mana analis konsisten dalam memberikan nilai pada matrik pembandingan. Secara umum, hasil analisis dianggap konsisten jika memiliki CR ? 10%. Jika nilai CR > 10%, perlu dipertimbangkan untuk melakukan reevaluasi dalam penyusunan matriks pembandingan.

Pengertian Metode SAW
Metode SAW melakukan analisis dalam pengambilan keputusan terbaik dari sejumlah alternatif, menggunakan bobot masing-masing kriteria. Sistem pendukung keputusan pemilihan pegawai terbaik ini menggunakan lima kriteria dengan bobot kriteria serta penilaian pada masing-masing pegawai diberikan lansung oleh si pengambil keputusan.
Metode SAW dapat membantu dalam pengambilan keputusan suatu kasus, akan tetapi perhitungan dengan menggunakan metode SAW ini hanya yang menghasilkan nilai terbesar yang akan terpilih sebagai alternatif yang terbaik. Perhitungan akan sesuai dengan metode ini apabila alternatif yang terpilih memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Metode SAW ini lebih efisien karena waktu yang dibutuhkan dalam perhitungan lebih singkat. Metode SAW membutuhkan proses normalisasi matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua rating alternatif yang ada.

B. Pembahasan
Pembahasan Metode AHP
Data dari KARYAWAN DI IFUN JAYA TEXTILE
No
Alternatif
Nama Kriteria
C1
C2
C3
C4
C5
1
Ahmad Soleh
Baik
Baik
Sangat Baik
Cukup
Baik
2
Eko Darmawanto
Sangat Baik
Baik
Baik
Baik
Sangat Baik
3
Kiswandi
Baik
Sangat Baik
Cukup
Baik
Baik
4
Ibnu Nugroho
Cukup
Baik
Cukup
Cukup
Baik
5
Slamet
Baik
Baik
Baik
Baik
Cukup




Kualitas : Kualitas
1:1
Kualitas : Ketaatan
1:3
Kualitas : Kerjasama
1:5
Kualitas : Semangat
1:7
Kualitas : Disiplin
1:3

Ketaatan : Kualitas
3:1
Ketaatan : Ketaatan
1:1
Ketaatan : Kerjasama
5:1
Ketaatan: Semangat
1:3
Ketaatan : Disiplin
1:7

Kerjasama : Kualitas
5:1
Kerjasama : Ketaatan
1:5
Kerjasama: Kerjasama
1:1
Kerjasama : Semangat
1:3
Kerjasama : Disiplin
1:3

Semangat : Kualitas
7:1
Semangat : Ketaatan
3:1
Semangat: Kerjasama
3:1
Semangat : Semangat
1:1
Semangat : Disiplin
3:1

Disiplin : Kualitas
3:1
Disiplin : Ketaatan
7:1
Disiplin : Kerjasama
3:1
Disiplin : Semangat
1:3
Disiplin : Disiplin
1:1

A.      PERHITUNGAN MATRIK PERBANDINGAN ANTAR KRITERIA
A.  Perhitungan Tiap Kriteria
s 


B. Perkalian Matriks

C. Normalisasi Matriks
 

1. Kriteria Dari Kualitas Dan Kuantitas
 
1. Sub Kriteria 'Ketaatan'




2. Sub Kriteria 'Kerja Sama'



3. Sub Kriteria 'Semangat Kerja'



4. Sub Kriteria 'Disiplin'



Nilai Alternatif Terhadap Kriteria




Pembahasan Metode SAW
Metode SAW membutuhkan proses normalisasi matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua rating alternatif yang ada.

           

Ket:
·         Rij = nilai rating kinerja ternomalisasi
·         Xij = nilai atribut yang memiliki dari setiap kriteria
·         = nilai terbesar dari setiap kriteria
·         = nilai terkecil dari setiap kriteria

Benefit = jika nilai terbesar adalah terbaik
Cost = jika nilai terkecil adalah terbaik
                                Dimana rij adalah rating kinerja ternormalisasi dari alternatif Ai pada atribut Cj; i=1,2,...,m dan j=1,2,...,n. Nilai preferensi untuk setiap alternatif (Vi) diberikan sebagai:
                                   
                                   

                        Ket:
·         Vi = Ranking untuk setiap alternative
·         Wj = Nilai bobot dari setiap kriteria
·         Rij = nilai rating kinerja ternormalisai
Nilai Vi yang lebih besar menginkasikan bahwa alternatif Ai lebih terpilih.

Perhitungan Ke 1.
Melakukan normalisasi matrik keputusan dengan cara menghitung nilai rating kinerja ternomalisasi (rij) dari alternatif pada kriteriaCj
Rumus :
            Cara perhitugan = pada colm I baris ke 16
                                    =C8/max(C8:C25)


Perhitungan Ke 2
Hasil akhir nilai preferensi (Vi) diperoleh dari penjumlahan dari perkalian elemen baris matrik ternormalisasi (R) dengan bobot preferensi (W) yang bersesuaian eleman kolom matrik (W).Hasil perhitungan nilai Vi yang lebih besar mengindikasikan bahwa alternatif Ai merupakan alternatif terbaik

Cara perhitugan : pada colom O baris 16
Dilakukan rumus 1 di kalikan dengan bobot
=(C13*I16)+(D13*J16)+(E13*K16)+(F13*L16)+(G13*M16)

 


Baca selengkapnya